Rabu, 04 April 2012

Dinamika Kelompok

Teori-Teori Pembentukan Kelompok
Ada beberapa teori yang berkaitan dengan pembentukan kelompok. yaitu:

Teori Kedekatan (Propinquity)
Teori yang sangat dasar tentang terbentuknya kelompok ini adalah menjelaskan adanya afiliasi di antara orang – orang tertentu.
Teori Interaksi (Geome Homans)
Teori pembentukan kelompok yang lebih komprehensif adalah suatu teori yang berasal dari George Homans. Teorinya berdasarkan pada aktivitas-aktivitas , interaksi-interaksi, dan sentimen-sentimen (perasaan atau emosi).

Teori Keseimbangan (Theodore Newcomb)
Salah satu teori yang agak menyeluruh. (comprehensive) penjelasannya tentang pembentukan kelompok ialah teori keseimbangan (a balance theory of group formation) yang dikembangkan oleh Theodore Newcomb. Teori ini menyatakan bahwa seseorang tertarik pada yang lain adalah di dasarkan atas kesamaan sikap di dalam menanggapi suatu tujuan.

Teori Pertukaran
Teori lain yang sekarang ini mendapat perhatian betapa pentingnya di dalam memahami terbentuknya kelompok ialah teori pertukaran (exchange theoty). Teori ini ada kesamaan fungsinya dengan teori motivasi dalam bekerja. Teori propinquity, interaksi, keseimbangan, semuanya memainkan peranan di dalam teori pertukaran ini.

Ciri-Ciri Kelompok
Ciri-ciri kelompok adalah sebagai berikut :
-Merupakan kesatuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kelompok atau kesatuan manusia yang lain.

-Memiliki struktur sosial

-Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya.

-Memiliki faktor pengikat.

-Adanya interaksi dan komunikasi diantara para anggotanya.

-Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama)

-Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (Akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat)

Jenis-Jenis Kelompok

Kelompok Primer
Merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan. Sedangkan menurut Goerge Homans kelompok primer merupakan sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang sering berkomunikasi dengan lainnya sehingga setiap orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) tanpa melalui perantara. Misalnya: keluarga, RT, kawan sepermainan, kelompok agama, dan lain-lain.

Kelompok Sekunder
Jika interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang kekeluargaan. Hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih objektif. Misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain.

Kelompok Formal
Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi. Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART. [1]

Kelompok Informal
Merupakan suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Keanggotan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok Kelompok ini terjadi pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan kekeluargaan dan simpati. Misalnya: kelompok arisan

Kelompok referensi
Merupakan kelompok sosial yang menjadi ukuran bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Seseorang itu telah menyetujui norma, sikap, dan tujuan dari kelompok tersebut.

Kelompok membership
Merupakan kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Ukuran utama bagi keanggotaan seseorang dengan interaksinya dengan kelompok sosial yang bersangkutan.

Dasar-Dasar Daya Tarik Interpersonal
Setiap kita berorganisasi baik di masyarakat umum maupun komunitas tertentu, tentunya tidak akan lepas dari yang namanya Komunikasi. Dalam interaksi dengan orang lain untuk kali pertama, sering muncul pertanyan dalam diri kita, apakah orang tersebut menyukai kita atau sebaliknya, apakah kita akan senang dengan orang tersebut? Setelah perjumpaan awal, perhatian kita seringkali terfokus pada bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan yang tercipta berdasarkan daya tarik awal untuk selanjutnya dapat akan menimbulkan keintiman dan bahkan cinta. Para ahli psikologi ternyata telah banyak mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi daya tarik seseorang terhadap orang lain. Hal ini disebabkan karena manusia akan berusaha untuk memprioritaskan hubungan antar pribadi sepanjang hidupnya. Kecenderungan untuk berafiliasi (keinginan untuk berada bersama dengan orang lain) memang cukup kuat bagi kebanyakan orang.
Perasaan orang lain pun terhadap kita ternyata mempunyai kekuatan yang cukup besar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa walaupun diantara dua orang terdapat perbedaan cukup mendasar mengenai berbagai isu (misalnya; abortus, perceraian, kawin campur dan lain-lain) bila mereka saling mengagumi maka hubungan mereka akan dapat menjadi akrab.Hal ini sebenarnya sudah terjadi semenjak kita masih jadi seorang bayi, dimana bayi mulai membangun rasa kasih sayang yang kuat pada satu orang dewasa atau lebih. Daya tarik interpersonal, menurut Baron dan Byrne (1977) adalah evaluasi seseorang terhadap orang lain secara positif maupun negative yang sedang atau pernah dialami. Kesamaan sikap akan membuat orang cenderung menyukai orang lain. Mengapa kita menyukai atau tidak menyukai orang lain? Pada bagian ini akan dibahas beberapa dasar-dasar/prinsip yang berusaha menjelaskan mengapa akhirnya kita memutuskan untuk berteman atau tidak berteman dengan orang lain. Beberapa prinsip tersebut adalah:

Penguatan
Prinsip dasar dari teori belajar adalahpenguatan (reinforcement). Kita menyukai orang lain dengan cara memberi ganjaran sebagai penguatan dari tindakan atau sikap kita. Salah satu tipe ganjaran yang penting adalah persetujuan sosial, dan banyak penelitian memperlihatkan bahwa kita cenderung menyukai orang lain yang cenderung menilai kita secara positif (Sears, 1992).

Pertukaran Sosial
Pandangan ini menyatakan bahwa rasa suka kita kepada orang lain didasarkan pada penilaian kita terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan seseorang kepada kita. Sesuai dengan teori pertukaran sosial, kita menyukai seseorang apabila kita mempersepsi bahwa interaksi kita dengan orang itu sifatnya menguntungkan, yaitu apabila ganjaran akan kita terima lebih besar dari pada kerugiannya. Teori ini juga menekankan bahwa kita membuat penilaian komparatif, menilai keuntungan yang kita peroleh seseorang dibandingkan dengan keuntungan yang kita peroleh dari orang lain (Sears dkk., 1992).

Asosiasi
Prinsip yang amat berguna di dalam "clasical conditioning" adalah asosiasi. Kita menjadi suka kepada orang yang diasosiasikan (dihubungkan) dengan pengalaman yang baik/bagus dan tidak suka kepada orang yang diasosiasikan dengan pengalaman buruk/jelek (Clore & Byrne dalam Sears dkk., 1992).Hasil penelitian May dan Hamilton (dalam Sears dkk., 1992) menunjukkan bahwa mereka tertarik pada dampak latar belakang musik yang bagus dan jelek terhadap daya tarik interpersonal. Pertama-tama, mereka menentukan jenis musik yang paling disukai (musik rock) dan yang paling tidak disukai (musik klasik) oleh para mahasiswi. Kemudian mereka meminta mahasiswi lain untuk menilai potret seorang pria yang tidak dikenal. Sementara para mahassiwi itu membuat penilaian mereka, diperdengarkan musik rock, musik klasik, atau sarna sekali tidak diperdengarkan musik. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswi menilai potret pria itu kurang baik apabila potret itu diasosiasikan dengab musik yang tidak disukai; dan menilai pria itu sangat baik bila potretnya diasosiasikan dengan musik yang disukai.

Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok
Perkembangan kelompok dapat ditunjang oleh bagaimana komunikasi dalam kelompok. Perkembangan kelompok dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

a. Tahap pra afiliasi
Merupakan tahap permulaan dengan diawali adanya perkenalan dimana semua individu akan saling mengenal satu dengan yang lain, kemudian berkembang menjaadi kelompok yang sangat akrab dengan mengenal sifat dan nilai masing-masing anggota.

b. Tahap Fungsional
Tahap ini tumbuh ditandai adanya perasaan senang antara satu dengan yang lain, tercipta homogenitas, kecocokan dan kekompakan dalam kelompok. Maka akan terjadi pembagian dalam menjalankan fungsi kelompok.

c. Tahap Disolusi
Tahap ini terjadi apabila keanggotaan kelompok sudah mempunyai rasa tidak membutuhkan lagi dalam kelompok, tidak tercipta kekompakan karena perbedaan pola hidup, sehingga percampuran yang harmonis tidak terjadi dan akhirnya terjadi pembubaran kelompok.
Tuckman mengidentifikasikan lima tahapan untuk melihat perkembangan suatu kelompok, yaitu forming, storming, norming, performing, dan adjourning (Johnson dan Johnson, 2000).

1. Tahapan forming merupakan suatu tahapan di mana anggota kurang yakin untuk menentukan tempatnya dalam kelompok serta prosedur dan aturan-aturan dalam kelompok.

2. Tahapan storming, mulai timbul berbagai macam konflik karena anggota menentang pengaruh kelompok dan kurang sesuai dalam menyelesaikan berbagai macam tugas.

3. Tahapan norming, kelompok membuat beberapa konsensus mengenai peran, struktur, dan norma yang digunakan sebagai acuan dalam berperilaku yang tepat. Dalam periode ini, komitmen dan kohesi meningkat.

4. Tahapan performing, anggota kelompok menjadi cakap dalam kerja sama untuk pola kerja samanya.

5. Tahapan adjourning, kelompok menjadi bubar.

Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami. Kekuatan yang bekerja dalam kelompok, yang mempengaruhi hasil kerja kelompok dan kepuasan anggotanya.

Unsur – unsurnya :

-Kegiatan, tindakan verbal maupun non verbal yang dilakukan oleh anggota kelompok.

-Interaksi, Komunikasi dan kontak antar pribadi yang terjadi di antara anggota-anggota kelompok.

-Sentimen, Perasaan, sikap, keyakinan/nilai-nilai yang dianut oleh anggota kelompok.


Kesimpulan
Pembentukkan kelompok itu tidak bisa sembarangan. Kita harus tahu bagaimana, untuk apa kelompok itu dibentuk. Terdiri beberapa tahapan dalam pembentukan dan pengembangan kelompok . Sehingga, bertolak pada tujuan dan pencapaian hasil , kelompok terbagi dalam beberapa jenis sesuai dengan tingkat interaksi yang terjadi didalamnya. Juga kegiatan apa yang disertakan dalam kelompok tersebut. Komunikasi Interpersonal menjadi factor penting dalam menyatukan ide dan pikiran untuk tujuan bersama.


Sabtu, 18 Februari 2012

Refreshing with you







 February 15, 2012
On this day me and my boyfriend went to Cartil. For me it was the day that can make me happy to still be with him. Although these are all filled with a sense of concern.
But on this day I really feel the comfort when I'm with him.
Thank you dear, has given a sense that is so meaningful to me. The more love you!


Rabu, 01 Februari 2012

TRIK KENA TILANG


TRIK KENA TILANG

Beberapa waktu yang lalu sekembalinya berbelanja kebutuhan, saya sekeluarga pulang dengan menggunakan taksi. Ada adegan yang menarik ketika saya menumpang taksi tersebut, yaitu ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Sempat teringat oleh saya dialog antara polisi dan sopir taksi.
Polisi (P) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK?
Sopir (Sop) : Baik Pak.
P : Mas tau..kesalahannya apa?
Sop : Gak pak
P : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor taksi yg memang gak standar) sambil langsung mengeluarkan jurus sakti mengambil buku tilang. lalu menulis dengan sigap
Sop : Pak jangan ditilang deh,. wong plat aslinya udah gak tau ilang kemana? kalo ada pasti saya pasang
P : Sudah,saya tilang saja!kamu tau gak banyak mobil curian sekarang? (dengan nada keras !! )
Sop : (Dengan nada keras juga ) Kok gitu! taksi saya kan Ada STNK nya pak , ini kan bukan mobil curian!
P : Kamu itu kalo di bilangin kok ngotot (dengan nada lebih tegas) kamu terima aja surat tilangnya (sambil menyodorkan surat tilang warna MERAH)
Sop : Maaf pak saya gak mau yang warna MERAH suratnya,Saya mau yg warna BIRU aja
P : Hey! (dengan nada tinggi) kamu tahu gak sudah 10 Hari ini form biru itu gak berlaku!
Sop : Sejak kapan pak form BIRU surat tilang gak berlaku?
P : Inikan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form BIRU! Dulu kamu bisa minta form BIRU! tapi sekarang ini kamu Gak bisa! Kalo kamu gak mau kamu ngomong sama komandan saya (dengan nada keras dan ngotot)
Sop : Baik pak, kita ke komandan bapak aja sekalian (dengan nada nantangin tuh polisi) Dalam hati saya berani betul sopir taksi ini,.
P : (Dengan muka bingung) Kamu ini melawan petugas!?!
Sop : Siapa yg melawan!? Saya kan cuman minta form BIRU? Bapak kan yang gak mau ngasih
P : Kamu jangan macam-macam yah! saya bisa kenakan pasal melawan petugas!
Sop : Saya gak melawan! Kenapa bapak bilang form BIRU udah gak berlaku? Gini aja pak saya foto bapak aja deh,. kan bapak yg bilang form BIRU gak berlaku (sambil ngambil HP)
Wah wah hebat betul nih sopir ?. berani, cerdas dan trendy (terbukti dia mengeluarkan hpnya yang ada berkamera.
P : Hey! Kamu bukan wartawankan! ? Kalo kamu foto saya, saya bisa kandangin (sambil berlalu) Kemudian si sopir taksi itupun mengejar itu polisi dan sudah siap melepaskan shoot pertama
(tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lagi )
P 2 : Mas, anda gak bisa foto petugas sepeti itu
Sop : Si bapak itu yg bilang form BIRU gak bisa dikasih (sambil tunjuk polisi yg menilangnya)
lalu si polisi ke 2 itu menghampiri polisi yang menilang tadi, ada pembicaraan singkat terjadi antara polisi yang menghalau si sopir dan polisi yang menilang. Akhirnya polisi yg menghalau tadi menghampiri si sopir taksi
P 2 : Mas mana surat tilang yang merah nya? (sambil meminta) Sop: Gak sama saya pak. Masih sama temen bapak tuh (polisi ke 2 memanggil polisi yang menilang)
P : Sini tak kasih surat yang biru (dengan nada kesal) Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar Rp..30.600 sambil berkata “nih kamu bayar sekarang ke BRI ? lalu kamu ambil lagi SIM kamu disini, saya tunggu”..
S : (Yes!!) Ok pak ..gitu dong kalo gini dari tadi kan enak?
Kemudian si sopir taksi segera menjalnkan kembali taksinya sambil berkata pada saya, “Pak .. maaf kita ke ATM sebentar ya … mau transfer uang tilang .
Saya berkata ya silakan. Sopir taksipun langsung ke ATM sambil berkata, “Hatiku senang banget pak, walaupun di tilang, bisa ngasih pelajaran berharga ke polisi itu.Untung saya paham macam2 surat tilang” Tambahnya, “Pak kalo ditilang kita berhak minta form Biru, gak perlu nunggu 2 minggu untuk sidang Jangan pernah pikir mau ngasih DUIT DAMAI?. Mending bayar mahal ke negara sekalian daripada buat oknum!”

Dari obrolan dengan sopir taksi tersebut dapat saya infokan ke Anda sebagai berikut: SLIP MERAH, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan Dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat. Itupun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrian panjang, Dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilai tilang… Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat, disinipun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang.. SLIP BIRU, berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekening tertentu (kalo gak salah norek Bank BUMN). Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM/STNK kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang.


#ayoo berantas korupsi dari mulai hal yang kecil seperti ini

Selasa, 31 Januari 2012

PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI


PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI

Perilaku individu adalah suatu fungsi dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dalam hal ini, perilaku tiap individu pasti berbeda, yang ditentukan oleh lingkungan masing- masing dari tiap individu yang memang berbeda- beda pula.
Manusia adalah salah satu faktor penting dalam organisasi. Kinerja organisasi sangat tergantung pada kinerja individu yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, pemahaman tentang perilaku organisasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerjanya.

A. PERILAKU INDIVIDU
Perilaku individu dalam organisasi adalah sikap dan tindakan (tingkah laku) seorang manusia (individu) dalam organisasi sebagai ungkapan dari kepribadian, persepsi dan sikap jiwanya, dimana bisa berpengaruh terhadap prestasi (kerja) dirinya dan organisasi.
Para psikologi evolusioner menyebutkan bahwa pembentukan perilaku manusia pada dasarnya sudah terbentuk sejak lahir. Sehingga perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh faktor instrintik (bawaan sejak lahir dan motivasi diri) dan faktor ekstrinsik (aspek lingkungan dan motivasi dari luar).

B. PERBEDAAN INDIVIDUAL

• Manusia berbeda karena mempunyai kemampuan yang berbeda. Apabila kita mampu memahami sifat-sifat manusia, maka kita akan paham mengapa seseorang berperilaku yang berbeda dengan yang lain didalam melaksanakan suatu kerjasama.
• Manusia berbeda karena mempunyai Kebutuhan yang berbeda. Pemahaman kebutuhan yang berbeda dari seseorang sangat bermanfaat untuk memahami konsep perilaku seseorang didalam organisasi. Hal ini bisa dipergunakan untuk memprediksi dan menjelaskan perilaku yang berorientasi tujuan di dalam organisasi.
• Orang berpikir tentang masa depan dan membuat pilihan tentang bagaimana bertindak.
• Manusia Berbeda karena faktor lingkungannya. Memahami lingkungan adalah suatu proses yang aktif, dimana seseorang mencoba membuat lingkungannya mempunyai arti baginya.


C. KARAKTERISTIK ORGANISASI DAN PENGARUH TERHADAP INDIVIDU
Implikasi dari karakteristik organisasi terhadap individu apabila ditinjau dalam segi kebutuhan, individu itu sendiri adalah motivasi kerja, motivasi kerja timbul karena adanya sistem pengkajian, motivasi kerja akan berdampak pula pada produktivitas kerja individu dan terhadap kinerja organisasi.
Karakteristik individu dalam organisasi antara lain :
Karakteristik biografis
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Status kawin
4. masa kerja
Kemampuan
1. kemampuan fisik
2. kemampuan intelektual
Kepribadian
Proses belajar
Persepsi
Sikap
Kepuasan kerja



D. PENDEKATAN-PENDEKATAN UNTUK MEMAHAMI PERILAKU INDIVIDU

• Pendekatan Kognitif
Pendekatan kognitif tidak memperhitungkan masa lalu (ahistoric). Data dalam pendekatan kognitif yaitu, data atas sikap, nilai, pengertian dan pengharapan pada dasarnya dikumpulkan lewat survey dan kuestioner.
Ada tiga hal yang umum yang terdapat dalam teori kognitif, yaitu :
1. Elemen Kognitif
Teori ini percaya bahwa perilaku seseorang disebabkan adanya suatu rangsangan (stimulus), yakni suatu obyek fisik yang mempengaruhi seseorang dengan banyak cara, dan melihat bagaimana ransangan tersebut diproses dalam diri seseorang. Jadi menurut teori ini, semua perilaku itu tersusun secara teratur. Individu mengatur pengalamannya ke dalam aktivitas untuk mengetahui (cognition) yang kemudian kedalam susunan kognitif (cognitive structure) yang akan menentukan pada jawaban (response) seseorang.
Kognisi adalah dasar dari unit teori kognitif, merupakan representasi internal yang terjadi antara suatu stimulus dengan suatu jawaban (response). Jadi, seseorang mengetahui adanya suatu stimulus, kemudian memprosesnya kedalam kognisi, yang pada akhirnya menghasilkan atau menyebabkan jawaban.

2. Struktur Kognitif
truktur dan system kognitif dinamakan struktur kognitif. Sifat dari system kognitif tergantung pada karakteristik dari stimulasi yang diproses ke dalam kognisi dan pengalaman dari masing-masing individu.

3. Fungsi Kognitif
1) Memberikan pengertian pada kognitif baru
2) Menghasilkan emosi yang menunjukkan perasaan atau penilaian
3) Membentuk sikap. Sikap seseorang itu mempunyai kognitif (pengetahuan), afektif (emosi) dan tindakan (perilaku).
4) Memberikan motivasi terhadap konsekuensi perilaku
• Pendekatan Penguatan
Pendekatan ini menekankan peranan atau hubungan antara lingkungan dalam perilaku manusia. Lingkungan sebagai suatu sumber stimuli dapat menghasilkan dan memperkuat respon-respon tertentu. Selain itu, pendekatan menyatakan bahwa perilaku itu ditentukan oleh stimuli lingkungan baik sebelum terjadinya perilaku maupun hasil dari perilaku.

• Pendekatan Psikoanalitis
Sigmund Freud memberikan 3 komponen dasar perilaku individu, yaitu
1) Konsep Id, adalah subsistem dari kepribadian yang merupakan sumber dan menampung semua kekuatan jiwa yang menyebabkan berfungsinya suatu sistem yang berkenaan dengan kata hati, hasrat dan keinginan untuk mengejar kesenangan & kepuasan.
2) Konseps Ego, mewakili logika yang dihubungkan dengan prinsip realitas dan merupakan subsistem yang berfungsi ganda yakni melayani sekaligus mengendalikan (penengah) dua sisi lainnya (Id & Super Ego), dengan cara berinteraksi antara diri dan lingkungan.
3) Konsepsi Super Ego, kekuatan moral dari personalitas yang merupakan sumber nilai, norma dan etika yang dianut seseorang dan memungkinkan ego memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah. Jika seseorang memiliki superego yang baik, maka orang tersebut akan memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi.

E. PERSEPSI DAN KOMUNIKASI

• PERSEPSI
Persepsi merupakan suatu proses di mana individu-individu menafsirkan kesan-kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungannya. Persepsi setiap orang pasti berbeda, karena setiap orang mempunyai pemikiran dan karakteristik yang berbeda pula.
Menurut pendapat Stephen P. Robbin ( 1999:46 ), Persepsi adalah proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterprestasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan mereka.
• KOMUNIKASI
Komunikasi berasal dari bahasa latin Communicare yang artinya suatu alat untuk berkomunikasi terutama suatu sistem penyampaian dan penerimaan berita seperti misalnya telefon, radio, dsb
Komunikasi adalah penyampaian suatu informasi dari seseorang kepada orang lain dan memberikan suatu pemahaman terhadap si penerima informasi tersebut. Komunikasi memiliki fungsi utama, yakni sebagai fungsi kendali, motivasi, pernyataan emosi, dan informasi.
Komunikasi dalam konteks organisasi mempunyai peranan dalam membangun iklim organisasi dan berdampak kepada membangun budaya organisasi, maka dari itu peranan komunikasi sangat vital dalam pencapaian tujuan organisasi.





REFERENSI:
www.scribd.com/Perilaku-Individu-Dan-Pengaruhnya-Terhadap-Organisasi -
http://imadiklus.com/peran-organisasi-dalam-mempengaruhi-tingkah-laku-anggotanya
Thoha, Miftah. 1983. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Usman, Husaini. 2008. Manajemen, Teori Prakteik dan Riset Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Bumi Aksara


ORGANISASI SEBAGAI SISTEM SOSIAL

ORGANISASI SEBAGAI SISTEM SOSIAL

Organisasi sebagai sistem sosial dikarenakan di dalamnya terdapat sekelompok orang yang memiliki hubungan keterkaitan antara satu dengan lainnya sehingga bersosialisasi dengan para pelaku organisasi. Dalam perilaku organisasi, individu – individu harus mampu menyesuaikan dirinya dengan cara bersosialisasi dengan yang lain. Hal seperti ini akan membuat tugas yang diberikan akan terasa mudah karena dapat dilakukan bersama.

A. ORGANISASI DIPANDANG SEBAGAI PERWUJUDAN TINGKAH LAKU ORANG – ORANG YANG MENGAKOMODASIKAN INTERAKSI BERSTRUKTUR.
Organisasi adalah suatu kelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama. Tujuan merupakan hasil yang berupa barang, jasa, uang, pengetahuan dan lain – lain. Pengertian sosial adalah manusia yang berkaitan dengan masyarakat dan para anggotanya. Jadi, sistem sosial merupakan orang-orang dalam masyarakat dianggap sebagai sistem yang disusun oleh karakteristik dari suatu pola hubungan dimana sistem tersebut bekerja untuk mewujudkan keinginannya. Beberapa hal yang menggambarkan organisasi sebagai sistem sosial antara lain dengan adanya organisasi sosial dan organisasi sosial.
Perilaku organisasi adalah telaah dan penerapan pengetahuan tentang bagaimana orang bertindak di dalam organisasi. Dengan demikian dalam kaitannya dengan organisasi sebagai sistem sosial maka kajian perilaku organisasi mencakup berbagai aspek seperti : publik, bisnis, sosial dll.
Menurut John Willey faktor-faktor organisasi antara lain:
1. Manusia
2. Teknologi yang digunakan
3. Tugas/ kerja
4. Budaya organisasi
Karena manusia adalah makhluk sosial, maka mereka saling membutuhkan satu sama lainnya. Begitu juga dalam organisasi, organisasi sebagai sistem sosial karena dalam organisasi terdapat beberapa orang yang mempunyai tujuan dan bekerja sama dalam memenuhi ketercapaian tujuan tersebut. Organisasi bisa menciptakan suasana keterkaitan dan saling berhubungan satu sama lainnya, karena itulah organisasi disebut juga suatu sistem sosial. Maka, perilaku organisasi difokuskan pada sekolah sebagai suatu sistem.

B. MODEL GETZELS TENTANG GAMBARAN ORGANISASI SEBAGAI PROSES INTERAKSI SOSIAL
Dalam organisasi orang ingin memuaskan kebutuhannya. Orang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi oleh organisasi dengan perannya. Hal ini digambarkan oleh Getzels dan Guba dalam pendekatannya mengenai model sistem sosial.
Getzels dan Guba mengadakan studi yang menganalisa perilaku pemimpin dalam sistem sosial. Mereka mengemukakan dua katagori perilaku. Pertama ialah perilaku kepemimpinan yang bergaya normatif dengan dimensi nomotetis yang meliputi usahanya untuk memenuhi tuntutan organisasi. Dimensi ini mengacu kepada lembaganya yang ditandai dengan peranan-peranan dan harapan tertentu sesuai dengan tujan-tujuan organisasi. Kedua ialah perilaku kepemimpinan yang bergaya personal yang disebut dimensi idiografis yaitu pemimpin mengutamakan kebutuhan dan ekspektasi anggota organisasinya. Dimensi kedua ini mengacu kepada individu-individu dalam organisasi yang masing-masing dengan kepribadian dan disposisi kebutuhan tertentu. Dimensi pertama disebut juga dimensi sosiologis, sedangkan dimensi kedua disebut dimensi psikologis. Sekolah selaku sistem sosial bisa dibayangkan memiliki kedua dimensi tersebut, yang bisa dianggap berdiri sendiri-sendiri, tetapi dalam situasi sebenarnya saling mempengaruhi.
Jadi dalam model Getzels dan Guba, keseimbangan antara individu, kelompok dan organisasi harus seimbang agar hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidup seseorang bisa tercapai secara kerja sama. Karena adanya sistem sosial dalam organisasi terciptalah suatu perilaku organisasi yang membuat organisasi tersebut mempunyai hubungan sosial.

SEJARAH PERILAKU ORGANISASI

SEJARAH PERILAKU ORGANISASI

Meskipun studi ini menelusuri akarnya kepada Max Weber dan para pakar yang sebelumnya, studi organisasi biasanya dianggap baru dimulai sebagai disiplin akademik bersamaan dengan munculnya manajemen ilmiah pada tahun 1890-an, dengan Taylorisme yang mewakili puncak dari gerakan ini. Para tokoh manajemen ilmiah berpendapat bahwa rasionalisasi terhadap organisasi dengan rangkaian instruksi dan studi tentang gerak-waktu akan menyebabkan peningkatan produktivitas. Studi tentang berbagai sistem kompensasi pun dilakukan.
Setelah perang Dunia 1, fokus dari studi organisasi bergeser kepada analisis tentang bagaimana faktor-faktor manusia dan psikologi mempengaruhi organisasi. Ini adalah transformasi yang didorong oleh penemuan tentang dampak Hawthorne. Gerakan hubungan antar manusia ini lebih terpusat pada tim, motivasi dan aktualisasi tujuan-tujuan individu di dalam organisasi.
Para pakar terkemuka pada awal tahap ini mencakup:
1. Chester Banard
2. Henri Fayol
3. Mary Parker Follet
4. Federick Herzberg
5. Abraham Maslow
6. David McClellan
7. Victor Vroom

Peran Dunia 2 menghasilkan pergeseran lebih lanjut daru bidang ini, ketika penemuan logistik besar-besaran dan penelitian operasi menyebabkan munculnya minat yang baru terhadap sistem dan pendekatan rasionalistis terhadap studi organisasi.
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, bidang ini sangat dipengaruhi oleh psikologi sosial dan tekanan dalam studi akademiknya dipusatkan pada penelitian kuantitatif.
Sejak tahun 1980-an penjelasan-penjelasan budaya tentang organisasi menjadi bagian yang penting dari studi ini. Metode-metode kualitatif dalam studi ini menjadi makin diterima, dengan memanfaatkan pendekatan-pendekatan dari antropologi, psikologi dan sosiologi.
Perilaku organisasi saat ini merupakan bidanga studi yang berkembang. Jurusan studi organisasi pada umumnya ditempatkan dalam sekolah-sekolah bisnis, meskipun banyak universitas yang juga mempunyai program psikologi industri dan ekonomi industri.
Perilaku organisasi menjadi semakin penting dalam ekonomi global ketika orang dengan berbagai latar belakang dan nilai budaya harus bekerja bersama-samasecara efektif dan efisien.

Referensi:
http://herwanparwiyanto.staff.uns.ac.id/files/2009/04/herwandefinisi.doc

KONSEP DASAR PERILAKU ORGANISASI

KONSEP DASAR PERILAKU ORGANISASI

A.Definisi Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi adalah suatu disiplin ilmuyang mempelajari bagaimana seharusnya perilaku tingkat individu, tingkat kelompok serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individu, kinerja kelompok maupun organisasi).
Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi, dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang telah terkait dengan studi ini adalah studi tentang Sumber Daya Manusia dan Psikologi Industri dan perilaku organisasi.
B. Dimensi-dimensi Pokok Pembahasan Teori Organisasi
Menurut teori organisasi klasik, rasionalitas, efisiensi dan keuntungan ekonomis adalah merupakan tujuan utama seseorang dalam berorganisasi, teori ini juga mengatakan bahwa manusia atau setiap individu itu berpikir dengan rasional dan memiliki pandangan bahwa produktivitas kerja akan meningkat dan mendapatkan hasil yang baik serta dapat menguntungkan organisasi dengan kata lain organisasi tersebut mengalami perubahan kepada peningkatan kualitas jika upah yang diterima oleh setiap individu atau timbale balik intuk individu itu dinaikkan dan menguntungkan satu sama lain.
Terdapat tiga dimensi pokok dalam pembahasan teori organisasi yaitu:
1) Dimensi teknis (penggerak organisasi)
2) Dimensi konsep (rancangan organisasi)
3) Dimensi manusia (unsure utama dalam organisasi).
Ketiganya adalah faktor utama yang harus dipenuhi dalam berorganisasi. Sedangkan kerangka organisasi adalah pada individu-individu dan kelompok.
C. Kerangka Dasar Konsep Perilaku Organisasi
Kerangka dasar pada perilaku organisasi adalah terletak pada dua komponen yaitu individu-individu yang berperilaku, baik itu perilaku secara individu, perilaku kelompok dan perilaku organisasi.
Dan komponen yang kedua adalah organisasi formal sebagai wadah dari perilaku itu. Yaitu sebagai sarana bagi individu dalam bermasyarakat ditandai dengan keterlibatannya pada suatu organisasi. Dan menjalankan perannya dalam organisasi tersebut.
Referensi:
1. Sisroom.blogspot.com/2006/06/konsep-dasar-perilaku-organisasi/
2. Isbo.blogspot.com/2011/01/perilaku-organiasi/